Andalan

Ara Bercerita: #10 Puisi untuk Teman

Semua orang tau, kita berbeda
Kau yang merintis di kota wali
Kau yang menginjakkan kaki di kota batik
Kau yang hidup di kota santri
Kau yang terlahir di kota batiah
kau yang menyambut dunia di kota pelajar

Ya, apa kata orang itu memang benar
Kita memang berbeda
Mengenai ragam cara pandang
Tampaknya membuat suatu keunikan

Seringkali aku setuju apa kata orang
Mengenai kota hujan
Yang sering kali di caci, di maki
Terkait kebiasaanya yang senang menjatuhkan diri

Aku setuju apa kata orang
Tentang kota hujan
Yang selalu mengukir indahnya kenangan
Menyatukan perbedaan, hingga sulit dipisahkan apalagi dilepaskan

Teman,
Kita tak pernah merencanakan semuanya, bukan ?
Untuk lebih jauh, maupun lebih dekat
Karena semuanya mengalir begitu saja
Menjalaninya dengan ikhlas, melewatinya tanpa batas

Pertemuan kita memang bukan yang pertama
Namun juga bukan yang terakhir
Lalu apa ?
Pertemuan kita menjadi pertemanan untuk selamanya

Iklan
Andalan

Ara Bercerita: #9 Euforia Tahun Baru, Apakah sebuah Tradisi ???

1 Januari 2019

03.12 WIB

Happy New Year, gaess !!!

Semoga di tahun 2019 ini, menjadi tahun yang berkah, semua tujuan dan cita-cita kamu tercapai, ra.

Memandang tahun baru pasti berbeda-beda, karena titik ambil sudut pandangpun juga berbeda. Ada sebagian orang menganggap pergantian tahun harus di rayakan secara megah dan meriah diiringi alunan musik yang menghentakan sebagian pulau yang merayakannya. Yang menjadi pertanyaan, euforia tahun baru, apakah sebuah tradisi ???

Ok, anggap saja aku adalah orang yang kurang ngaji, sedikit ilmu tentang islam, namun, berdasarkan apa yang aku pelajari ilmu agama islam yang aku pelajari tanpa batas, merayakan pergantian tahun dengan hura-hura adalah kesia-siaan. Tidak ada manfaat. Mengapa ??? Karena orang yang memilih hura-hura lebih memilih untuk mencari kesenangan, tanpa ada kebaikan maupun kebermanfaatan untuk sesama. Terkesan membuang-buang waktu. Boros.

Orang-orang berbondong-bondong ke jalan, hanya untuk melihat massa yang begitu banyak, melihat semarak kembang api yang meledakkan diri diangkasa, lalu pulang dengan bermacet-macetan. Untuk apa ??? Tidak ada faedahnya, gaess. Buang-buang waktu.

Waktu telah berganti, terus dan berpola sangat cepat, hingga kita sendiri tidak sadar, bumi sudah semakin tua. Sudahkah kau siap ???

Di tahun 2019, aku harap kamu semakin dewasa, ra. Bisa memilih jalan yang benar untuk hidupmu. Lebih bijak dalam mengambil keputusan. Lebih open minded dalam menyikapi berbagai masalah, perbedaan, dll. Lebih cerdas maupun lebih berani menyuarakan ketidakadilan dengan caramu sendiri. Berani berontak ketika melihat kesalahan. Ganti dan perbaiki lagi kaset hidup 2018, mu dengan kaset terbaru di 2019.

Melangkahlah apa yang menurut hati dan otakmu benar. Hiraukan apa kata orang yang hanya membuatmu jatuh terus dan jatuh lagi, tanpa memberi semangat yang berarti.

Jadi, apa yang sedang kau persiapkan di tahun 2019 ini ??? Semangat menulis, terus menulis, dan tetap menulis.

Seperti ungkapan Imam Ghozali

“Jika kamu bukan anak seorang raja dan bukan anak seorang ulama, maka jadilah penulis

Wassamualaikum Wr. Wb

Salam Damai

Ara

Andalan

Ara Bercerita: #8 Banyak Tanya Tentang Hidup

*spoiler: Tulisan ini bakal ngalor-ngidul sesuka hati.

Sebelumnya turut berduka cita atas musibah tsunami di selat sunda. Semoga korban dan keluarga di beri ketabahan. Tak lupa keluarga yang sampai saat ini belum menemukan sanak saudara, semoga dilancarkan dalam pencarian dan pengevakuasiannya. Yuk kirim doa Al-fatihah buat saudara-saudara kita yang tertimpa musibah (Palu, Donggala, Lombok, Sekitar Selat Sunda, Rohingya, Suriah, Palestina, dll).

By the way, pernah gak sih kalian berpikir tentang suatu hal yang begitu rumit mengenai penciptaan manusia ??? tentang kematian ??? seringkali aku memikirkan itu sendiri. Berbagi dengan yang lain percuma saja. Mereka sepertinya tidak akan tertarik dengan apa yang aku pikirkan. Mereka lebih memilih gosip yang lagi update saat ini. Terkadang aku berpikir, kenapa aku dilahirkan ??? untuk apa ??? kenapa aku hidup ??? kenapa Allah memilihku untuk hidup ??? Apa tujuan Allah menciptakanku ??? dan setelah aku dihidupkan, apa tujuan hidupku ???

jika hidup hanya sekedar makan, tidur, belajar, bekerja, menikah, punya anak, dan terus berulang, kok rasanya monoton banget ??? gak dapat value of life nya, gitu.

Gak ada maknanya. Mungkin, Allah menciptakanku untuk hidup di dunia, untuk menjalankan suatu misi. Ya, misi keadilan yang sekarang aku rasa berat sebelah. Yang berkuasa tetap berkuasa, hukum dan aturan bisa di beli, kadang elastis sesuai jumlah uang yang diberi. Istilahnya, orang kaya mah bebas. Kok jahat banget gitu. Bersyukur bisa diciptakan dan dilahirkan ke dunia. Namun, kontribusi apa yang udah kamu lakukan ? sudahkah kamu bermanfaat untuk sekitar ? apa saja yang udah kamu lakuin setahun kebelakang ??? hanya aku dan kalian yang membaca tulisan ini yang tau jawabannya. Ya, aku ngerasa sia-sia saja kalo kita gak ngelakuin apapun di dunia ini, nggak bisa jadi agent of change. Kematian juga buat aku menjadi orang yang overthinking, apa yang udah lo lakuin, buat bekal hidup lo nanti ?? siap belum ??? udah ngelakuin apa aja ? balik lagi ke pertanyaan awal, udah bermanfaat belum ? semenjak kepergian Alm. Ayahku, aku semakin memikirkan tentang kematian. Bagaimana ketika ibu, om, tante, kakek, nenek ninggalin lo, apakah lo udah siap ? bisa nerima ? ikhlas ? tentu sulit. Coba ubah pertanyaannya menjadi jika lo duluan yang ninggalin mereka, apa lo udah siap dengan diri lo sendiri ???

Auto diem.

gak bisa jawab, vroh.

Bukan cuma masalah hidup dan kematian yang buat aku galau, masalah masa depan juga. Gimana aku nanti ??? kerja apa ??? bisa banggain orang tua gak ??? tunggu-tunggu, cita-cita kamu jadi apa ? nah, kan, ujung-ujungnya gak bisa jawab lagi. Diem. Bayanganku soal pekerjaan itu masih suram, padahal itu adalah sebenar-benarnya perjuangan. Perjuangan kelarin skripsi mah gak ada apa-apanya. Masih misteri juga, cita-citaku apa ya ? yang terpikir hanya pengen jadi penulis atau jurnalistik, tapi kuliah jurusan aktuaria ??? nggak make sense sih, tapi, rezeki mah dari pintu mana aja, ye kan ??? mau nyambung atau nggak, selagi halal, kenapa nggak ??? pokoknya masih banyak pertanyaan-pertanyaan dalam otak gue tentang hidup. Maaf ya, gak konsisten nih, kadang lo-gue, aku-kamu, saya-anda, wkwk. Bye… byee

Salam Damai

Ara

Ara Bercerita: #7 Uighur, Pejuang Tangguh dari Asia Timur

Tertatih, perih
Bangkit dan jatuh kembali
Telaah rasa sakit yang tidak dapat di kenali
Entah lupa,
atau mati rasa

Menahan untuk bertahan
Dari setruman dan dentuman
Apalagi paksaan
Paksaan untuk mengikuti suatu paham yang bertentangan
Melawan untuk keadilan
Namun, berujung mengenaskan

Pejuang tangguh tak pernah kalah karena kekerasan
Iman dan ketauhidan memberi kekuatan
Tidak melelangnya untuk rasa aman
Menolong agama Tuhan pasti ada pertolongan

Untuk Uighur
Teruslah merekah, jangan gugur
Ancaman berkedok pertahanan dan keamanan dari radikal, tak pernah manjur
Mereka lemah, iman membias lalu melebur
Mencari Tuhan, tak ada temu
Persepsi diri membuat mereka semakin linglung

Untuk Uighur
Kau kuat, karena iman
Kau berani, karena ketauhidan
Kau bertahan, karena Tuhan
Jangan takut…
Karena saudaramu masih berdoa kirim kekuatan dan keselamatan

Ara Bercerita: #6 Body Shaming

Pukul 23.37
Waktu Indonesia Bagian Dramaga, Bogor

Anyway, dari jam 1 siang sampe sekarang warna langit jadi item butek, gue masih terpaku sama layar laptop. Nyicil belajar, ngerjain tugas, istirahat bentar, nugas lagi, dan nugas teroosss…
Nah sekarang ini nih, gue lagi nonton yutup, biasa lah… mahasiswa butuh asupan hiburan, apalagi lihat yang bening-bening. Astaghfirullah… emang apaan yang bening ??? plastik lah. Mohon maaf kayaknya kurang kerjaan, mut. Lama-lama pegel juga ini leher kayak mau ke penggel.
By the way, selama 20 tahun gue hidup di bumi pertiwi ini, gue merasa masyarakat Indonesia, dari anak kecil sampai orang dewasa sudah terbiasa dengan body shaming. Mungkin ada beberapa orang yang tidak tahu-menahu tentang body shaming atau tidak mau tahu dan gak peduli. Jadi, body shaming adalah sebuah penghinaan fisik terhadap seseorang atau sekelompok orang yang dapat menyinggung perasaan orang yang di tuju. Bermula dari sebutan-sebutan yang mungkin orang-orang menyebutnya hal wajar. Namun ternyata dapat berdampak besar bagi yang merasakannya, entah itu mengakibakan gangguan mental, seperti anxiety disorder, bipolar disorder, dan lain-lain. Karena pada kenyataannya orang-orang yang memiliki gangguan mental itu karena pengaruh lingkungan yang selalu mengeluarkan kata-kata hinaan seperti;

“ dasar kamu jelek banget “
“ badan kamu gede banget sih kayak gajah” dan penghinaan-penghinaan lainnya selain karena pelecehan maupun kekerasan. Di era revolusi industry 4.0, sebagai generasi X, Y, maupun Z, sudah saatnya kita aware terhadap permasalahan ini. Kamu yang secara tidak sengaja menghina fisik seseorang, coba hindari dan jangan lakukan lagi, begitu juga buat gue sendiri yang nulis ini. Karena sesungguhnya kita sama sekali nggak tahu gimana perasaan orang tersebut, bagaimana cara dia menangkap apa yang kita ucapkan. Apakah sebagai candaan atau penghinaan ???
“ alah… disebut gitu doang,baper banget ! “

STOP MENGELUARKAN PERNYATAAN SEPERTI ITU !!!

Sudah gue bilang di awal, kita manusia biasa, bukan Tuhan yang mampu menerawang perasaan seseorang, walaupun niatnya hanya sekedar bercanda. Cukup beralasan kenapa Rasulullah Saw. melarang manusia untuk membuat suatu kebohongan dalam bercanda. Karena pasti ada pihak yang tersakiti, gengsss…

Selain itu, yang cukup membuat gue miris ketika manusia tidak bisa atau tidak tahu bagaiman caranya memanusiakan orang lain. Pasti kalian bingung, kan ?
Jadi gini, banyak gue lihat postingan-postingan seseorang di sosial media atau bahkan berita yang dipenuhi komentar-komentar yang menyakitkan. Segala jenis hinaan, cacian, makian, dan bahasa kebun binatang juga ada tuh, disitu. Miris ketika manusia lebih mirip hewan ketimbang manusia. Mendahulukan emosi dan malas untuk bertabayyun (mencari tahu atau mengklarifikasi) kebenaran berita tersebut. Gue jadi mikir, sepertinya masyarakat Indonesia belum siap menghadapai Revolusi Industri 4.0 yang apapun pekerjaannya menggunakan teknologi dan pastinya semakin banyak pula isu-isu hoax di media sosial. Faktanya, masyarakat Indonesia belum bisa berdamai dan belum siap dengan dirinya sendiri terkait Revolusi Industri 4.0 dan nggak ngata-ngatain orang. Sok-sok politisi tanpa ilmu yang cukup, asal ngomong, asal ngata-ngatain pake bahasa kebun binatang di balik akun-akun palsu. Apa faedahnya ??? apa pantas dipanggil MANUSIA ??? jawaban tergantung bagaimana kalian membaca dan menangkap tulisan panjang kali lebar ini.

Coba mulai dari sekarang, untuk kalian yang baca dan gue yang nulis, yuk kita sama-sama belajar menerapkan hidup positif, berhusnudzan kepada siapapun dan apapun, dan bertabayyun dalam menghadapi isu-isu sosial, tidak melulu keluar urat leher sampai putus apalagi sampai mampus. Naudzubillah hi min dzalik.

Suatu negara pun pada waktunya terus berevolusi untuk memperbaiki, masa manusia nggak. Indonesia sudah masuk di era Revolusi Industri 4.0, masa sikap dan cara berpikir masih stagnan di situ-situ aje. Buang yang kotor, terus perbaharui dengan kebaikan
Udah dulu, ya gue mau lanjutin ngerjain tugas
Assalamualaikum…
Salam Damai

Ara

Ara Bercerita: #5 The Miracle of Shalawat

Assalamualaikum, man-temaaannn…
Kembali lagi dengan ke-tijelannya si Araaaaaaaa, *prok…prok…prok
Ok, aku mau nyapa dulu nih, apa kabar kaliaaannn ? sehat, kaaann ? bagaimana dengan hatinyaaaa ? baik-baik aja, kan ? nggak luka, kan ???
Jadi, sesuai judul aku bakal sharing tentang shalawat. Kalian tau kan, shalawat ? sehari berapa kali, sih kita bershalawat ? 5 kali tiap salat, kan ? kenapa kita gak perbanyak lagi shalawatnya agar mendapat syafa’at Nabi Muhammad SAW ??? awalnya sama, bershalawat setiap salat, cuma 5 kali. Suatu hari, aku lihat postingannya Wirda Mansur (tau Wirda kagak ??? entu anaknya Ustadz Yusuf Mansur ) dia sharing tentang bagaimana ajaibnya shalawat dengan capaian mimpi kita. Dia bilang: “ lu mau semua cita-cita lu tercapai, perbanyak shalawat. Tulis, shalawatin dah, ikhtiar insyaallah terkabul “
Selain itu Wirda juga bilang, semua cita-citanya ingin ke luar negeri dan lain sebagainya, tercapai berkat shalawat. Menurutnya, untuk mendapatkan apa yang kita impikan, terasa sulit jika hanya mengandalkan otak. Masih banyak yang lebih pintar. Maka dari itu gunakanlah cara akhirat, insyaallah akan dipermudah. Nah aku coba, tuh. Waktu kelas 12, aku bingung memilih PTN

(Perguruan Tinggi Negeri) atau PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan) karena waktu itu aku tertarik dan ngebet banget sama STAN. Saat pendaftaran PTN aku milih IPB jurusan aktuaria. Semua merchandise IPB dan STAN aku punya, seperti brosur, pulpen, pin, dan stikernya, tak lupa di sholawatin satu-satu, kali aja ada yang nyantol, gitu. Oh iya tes STAN juga aku ikutin. Pokoknya aku perbanyak doa dan shalawat, meminta kepada Allah, jalan yang terbaik untuk meraih kesuksesan, walaupun waktu itu aku doanya terlalu ngebet pengen STAN, sih, heheh jangan di tiru, ya teman. Saat pengumuman PTN, udah prepare segala macem dah, seperti mental, tisu (buat ngelap ingus kalo tiba-tiba nangis, hee), kuota internet buat check web, dan lain-lainnya. Pokoknya dag dig dug ser gimana gitu bawaannya, gak tenang. Doa gak pernah berhenti, mintain doa juga ke orang tua semoga hasilnya memuaskan. Mata yang gak pernah capek lihatin jam. Dan ternyata bener gengss, ada yang nyantol. Aku lulus IPB jurusan Aktuaria, dan… I’ve failed to be a student of STAN. But, it’s not a big problem, coz I have the right way to get my successful, and it’s IPB with Actuary as my mayor. Doaku selama ini terjawab dan tercapai berkat doa dan shalawat. Selain itu aku juga pernah mengikuti lomba menulis cerpen online, aku berhasil dan di bukukan sebagai buku kumpulan cerpen, semua karena shalawat. Berikut ada Capture dari cerpenku yang telah diterbitkan;

Maka dari itu, perbanyaklah shalawat dan doa, agar semua yang ingin dicapai dapat terwujud nyata. Jangan lupa minta doa dan restu orang tua, agar lancar jaya kayak jalan tol,wkwkw. Udah, yeee, gitu aja dulu. Aku bakal sharing pengalaman-pengalaman yang bermanfaat. Kalo mau request, boleh bangeeeeettt. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar yaaaaa….

# A step closer with Allah, Allah will give you more. Keep Praying to Allah, Allah will be heard and give you whtat you need.

Ara Bercerita: #4 The Hate Speech

20 Nov 2018

14.36

Satu hal yang masih aku gak ngerti sama pola pikir beberapa manusia, yang masih suka menjadi seorang hakim untuk manusia lainnya. Seperti gambar diatas, dengan mudahnya melontarkan kata-kata kasar yang buat hati makin sesek. Menjatuhkan hukuman tanpa rasa keadilan, seolah-olah dialah golongan paling kanan. Kenapa setiap kali ada yang ‘berbeda’ dari kebanyakan orang, baik itu prinsip hidup, perilaku, pola pikir, dll mudah sekali anggota tubuh baik mata, telinga, mulut, tangan, kaki menyuarakkan kebencian. Tangan yang dengan lihainya mengetik berbagai kata-kata kutukan di media sosial. Mulut tak hentinya menghujat manusia yang berperilaku tak sama dengannya. Kenapa ? kenapa harus bertindak seperti itu ?
Seperti temen aku yang mulai belajar hijrah. Dia meninggalkan semua kebiasaan buruknya, sampai rela meninggalkan pacarnya sejak SMA di saat sayang-sayangnya kalo kata anak jaman sekarang *berasa tua weh*. Tapi, cerita berhijrah tidak hanya sampai di situ. Ujian datang untuk menentukkan seberapa kuat keinginan dia untuk berhijrah. Berawal dari celetukan teman satu jurusannya yang agak nyelekit
” Eh, lu udahan ya sama si B ”
” Iya, kenapa ? ”
” Nggak, pasti cowok lu ada main dibelakang ya ??? ”
” Nggak ada. Kami putus untuk hijrah. Kami gak mau terus terusan nabung dosa ” jelasnya
” Terus apa hubungannya sama lu ganti baju dengan baju lebih syari ? kalo menurut gue, mending lu jilbabin hati lu dulu, baru deh badan lu. karena, percuma lu pake syari begini tapi kelakuan masih garong kek kucing garong ” temenku terdiam, dia sudah malas menanggapi omongan seperti itu.
Dari penyataan itu, dapat di simpulkan, dia mungkin salah konsep. Berpikir bahwa berhijab, memakai pakaian syari itu suatu kesalahan langkah untuk merubah diri menjadi lebih baik. Padahal, dengan merubah pakaian, akhlakpun pasti mengikuti, di tambah pengaruh lingkungan positif yang mendorong diri kita menjadi lebih baik. Agak bingung juga, sih. Apa susahnya untuk tidak menghakimi orang yang mau berbuat baik karena perilaku buruknya di masa lalu ? apa susahnya untuk diam apabila membencinya tanpa menghakimi ? cukup berikan support saja. Mencari kedamaian itu semudah itu, lho. Gak usah kita mengorek-ngorek kesalahan mereka ketika mencoba untuk berhijrah. Apakah Allah membuka aib hambanya ketika hambanya mulai bertaubat ? nggak kan ?! lalu apa hak kita mengorek-ngorek kesalahan orang lain ? hey, lu siapa ? kita siapa ? semulia apakah kita sehingga seenak jidat menghakimi orang ? ingat, kita berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Paham kan maksudku ? cukup saling support, dunia akan indah dengan kedamaian.

KEEP IN PEACE

Ara

Ara Bercerita: #3 Sexual Harassment

Setelah salat subuh dan beres-beres kamar, gue nyempetin diri buat buka instagram sebelum siap-siap ngampus. Hal yang selalu gue lihat ketika log in instagram adalah lihat instastory. Dan gitu aja terus yang gue lakuin, buka instagram-lihat instastory-log out instagram. Namun, ada satu hal yang menarik hati gue ketika buka instastory salah satu Selebgram, Youtuber, sekaligus bisa dibilang Influencer lah. Kalian pasti pada tahu Gita Savitri Devi, kan ? kalo gak tau, silakan cek ig nya @gitasav (kok jadi promosiin ig nya wkwk). Kak Gita upload berita dari Balairungpress.com dengan tagline news yang di tulis besar-besar “ Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan “. Gue pagi itu baca sekilas, karena siap-siap mau berangkat ke kampus. Nah inti dari berita itu pelecehan seksual. Lagi dan lagi. Rupanya Indonesia masih tinggi tingkat pelecehan seksualnya. Gue shock dong, kok bisa gitu lho (ya bisalah, setan berkeliaran dimana-mana). Dengan segala kekagetan gue, gue maksain diri buat pergi kuliah sampe akhirnya balik ke kosan dan membaca keseluruhan isi berita tersebut.

Di sini gue gak akan menceritakan bagaimana ‘hal itu terjadi’ kalian bisa meluncur ke website balairungpress.com saja, bisa kalian baca sendiri, di sini gue cuma mau beropini. Menurut gue, gak tau kenapa korbannya selalu cewek dan terus berpola sampai sekarang. Gak usah di tanya lagi, gimana psikologinya, 100% terganggu cuyy. Dia trauma berat, mau di ungkapin dia malu dan hal itu tuh seperti aib gitu. Di artikel itu juga Agni ini bilang bahwa dia kerap kali tidak bisa tidur ketika malam hari, seperti kejadian pelecahan itu terus terulang di otaknya, dan itu sangat mengganggu.

Ada satu statement yang gue pribadi sangat tidak setuju dimana pihak DPkM nya secara gak langsung mengungkapkan “ ya udah lah, gue batalkan KKN lu, lu dapat nilai jelek, dan perkara selesai “. Itu SAMA SEKALI GAK FAIR, cuy. Si cowok bisa melanjutkan hidupnya dengan aman tentram sedangkan cewek ngerasa ketakutan, trauma yang mendalam. Dan sayangnya, kebanyakan masyarakat Indonesia menganggap Seksual Harassment itu sebagai sesuatu yang tabu dan HARAM buat di jadikan topik. Kesannya seperti “ ya udahlah, masalah kayak gini mending kita bereskan secara kekeluargaan, karena apabila di ungkap, keluarga sendiri yang malu dan ini adalah aib “ kira-kira seperti itu. Gue sebagai cewek, merasa pihak yang paling dirugikan, dirugikan atas semuanya.
Kenapa sih kita gak berani ngomong terkait suatu kebenaran ? kok kayaknya susah. Seolah-olah kita tuh udah di doktrin, bungkam saja, maafkan saja, toh cewek juga yang malu kalo pihak cewek melapor, biarkan Tuhan yang membalas. Memang, Tuhan pasti membalas perbuatan ORANG-ORANG yang DZHOLIM, tapi ingat, Indonesia Negara Hukum, dan segala bentuk kasus harus DIADILI

FYI Berdasarkan data CATAHU 2018 terdapat angka kekerasan terhadap anak perempuan yang meningkat dan cukup besar yaitu sebanyak 2.227 kasus. Sementara angka kekerasan terhadap istri tetap menempati peringkat pertama yakni 5.167 kasus, dan kemudian kekerasan dalam pacaran merupakan angka ketiga terbanyak setelah kekerasan terhadap anak yaitu 1.873 kasus. Di ranah privat/personal, persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.982 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.979 kasus), kekerasan psikis 15% (1.404 kasus), dan kekerasan ekonomi 13% (1.244 kasus). Data CATAHU 2018, untuk kekerasan seksual di ranah privat/personal tahun ini, incest (pelaku orang terdekat yang masih memiliki hubungan keluarga) merupakan kasus yang paling banyak dilaporkan yakni sebanyak 1.210 kasus, kedua adalah kasus perkosaan sebanyak 619 kasus, kemudian persetubuhan/eksploitasi seksual sebanyak 555 kasus. Dari total 1.210 kasus incest, sejumlah 266 kasus (22%) dilaporkan ke polisi, dan masuk dalam proses pengadilan sebanyak 160 kasus (13,2%). Di tahun ini, CATAHU juga menemukan bahwa pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah privat/personal adalah pacar sebanyak 1.528 orang, diikuti ayah kandung sebanyak 425 orang, kemudian diperingkat ketiga adalah paman sebanyak 322 orang. Banyaknya pelaku ayah kandung dan paman selaras dengan meningkatnya kasus incest.

Oleh sebab itu, kita harus lebih bisa menjaga diri, mengontrol diri, dll agar terhindar dari segala perbuatan kekerasan seksual, terkhusus wanita yang ‘RENTAN’ terhadap kekerasan seksual. Bertindaklah untuk lebih berani berbicara kebenaran, jangan hanya bungkam, itu sama saja memberi kesempatan pelaku untuk hidup bebas tanpa di adili dengan sebenar-benarnya KEADILAN.

SALAM DAMAI

Ara Bercerita: #2 Kids Jaman Now

Entah kenapa seiring dengan berkembangnya zaman, modernisasi yang meluas, teknologi canggih, pokoknya segala urusan dipermudah asal terhubung dengan jaringan internet, berbanding lurus dengan KEBOBROKAN MORAL yang semakin meningkat tiap tahunnya.

Entah itu pengaruh dari media sosial ataupun televisi yang sudah menayangkan acara “SAMPAH”. Bentuk fisiknya sudah jelas terlihat, dari hal-hal kecil, seperti bocah SD yang sudah mengenal apa itu PACARAN. Berawal dari panggilan sayang ‘ ayah-bunda’ sampai berani ‘MENYENTUH’. See ? pendidikan karakter harus lebih ditingkatkan dari pada hanya terfokus pada isian LKS (Lembar Kerja Siswa) dimana guru selalu menuntut siswa-siswinya untuk mengerjakan, mendapatkan nilai yang bagus, padahal value yang diharapkan tidak hanya sebuah ‘TINTA’ melainkan sikap dan cara berpikir kritis untuk membangun suatu negara agar bisa berdiri kokoh.

Lucu, memang. Bolehlah sesekali tertawa. Terkadang hidup ini perlu ditertawakan. Tak heran apabila semua itu terjadi, toh, tontonan lebih dominan pada 4BAGAIMANA CARA BERPACARAN YANG BAIK DAN BENAR’ bukan ‘KIAT SUKSES SEJAK DINI’. Tidak ada filtrasi tontonan anak-anak di bawah umur, atau memang tidak ada tontonan khusus di jam-jam tertentu untuk anak-anak. Para orang tua sudah seharusnya menjadi ‘REM’ untuk mengontrol perilaku anak-anak mereka. Memberikan edukasi yang baik, agar tak terpengaruh dari ajaran atau doktrin sesat yang hanya bersumber pada internet dan televisi. Adapun kesalahan yang fatal yang dilakukan mungkin beberapa orang tua, yaitu memberikan SMARTPHONE kepada anak yang belum pantas untuk di fasilitasi, karena mereka belum mengerti kegunaan sebenarnya di samping untuk mencari hiburan. Jadi, jangan salahkan anak apabila masih kecil sudah mengetahui beberapa akun gossip seperti lambeturah, artis, bahkan menjadikannya teladan. Apabila kebiasaan tersebut terus berlanjut, akan ada peluang suatu generasi menjadikan gossip sebagai mata pencaharian. Mudah dan di senangi banyak orang, seperti lambeturah. Oh, selamat datang di Indonesia…

Walaupun tidak semua anak-anak di indonesia tidak berperilaku demikian, namun ada baiknya arahkan mereka pada jalan yang benar. Jangan membuat mereka memilih jalan yang sudah jelas salah namun orang lain menyulapnya menjadi sebuah kebenaran. Sayang sekali apabila melewatkan anak-anak di usia GOLD nya, menyuapi mereka dengan ‘ASUPAN’ yang tidak baik. Karena anak-anak merekam semua yang di dengar, di lihat, di lakukan oleh orang dewasa, lalu ikut menirukannya.

Ara Bercerita: #1 Perkenalan

bloom-blossom-flora-1103624

Assalamualaikum…

Merhaba Arkadaşlar

Kenalin, aku Ara. Jadi, ini bukan blog pertamaku. Aku harap, ini blog terakhirku yang konsisten dengan konten yang bermanfaat, tidak sekedar “cerita tak berfaedah” sesuai dengan tagline blognya ‘Ara Bercerita’. Tapi blog ini bercerita tentang isu-isu yang kurang enak di dengar di dunia fana ini, aseekk. So, buat kalian yang juga pengen sharing, boleh banget email ke: helloramaharani@gmail.com

Ok?!

See youuu